Surat ini adalah salah satu surat yang
bisa jadi renungan bersama di Ramadhan ini. Surat Al Kautsar ini adalah surat
yang berisi penjelasan akan nikmat yang banyak yang telah dianugerahkan pada
Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, berisi pula perintah untuk
shalat dan berqurban hanya untuk Allah dan akibat dari orang yang membenci
Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ
لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
“Sesungguhnya Kami telah
memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu;
dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang
terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).
Makna
Al Kautsar
Allah Ta’ala telah
menyebutkan sebagian nikmat yang dikaruniakan kepada Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Allah Ta’ala berfirman pada Nabi kita Muhammad,
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
“Sesungguhnya Kami telah
memberikan kepadamu nikmat yang banyak”, maksudnya Kami telah
menganugerahkan nikmat padamu (wahai Muhammad) dan juga Kami telah memberikan
padamu Al Kautsar yaitu sungai di surga yang dijanjikan untuk Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan sungai itu adalah
telaga Nabi ‘alaihish sholaatu was salaam.
Terdapat hadits dalam shahih Muslim,
dari Anas, ia berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di
sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak).
Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa
engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu surat.” Lalu
beliau membaca,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (إِنَّا
أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ
الأَبْتَرُ
“Dengan menyebut nama Allah Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah
memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu;
dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang
terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3). Kemudian beliau berkata, “Tahukah
kalian apa itu Al Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab
kami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ
عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ
الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ
فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ
بَعْدَكَ
“Al Kautsar adalah sungai yang
dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang
banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat
nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada
dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah
berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat bid’ah sesudahmu.”
(HR. Muslim no. 400).
Ada pelajaran berharga dari Ibnu Katsir
mengenai cerita tentang surat Al Kautsar di atas, Beliau berkata, “Kebanyakan
ahli qiroah berdalil dari sini bahwa surat Al Kautsar adalah surat Madaniyah.
Dan kebanyakan dari fuqoha memandang bahwa basmalah adalah bagian dari surat
ini karena ia turun bersamanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 476). Namun
Ibnul Jauzi mengatakan bahwa jumhur (mayoritas ulama) termasuk Ibnu ‘Abbas
berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah. (Zaadul Masiir, 9: 247)
Ibnul Jauzi merinci ada enam pendapat
mengenai makna Al Kautsar:
1. Al Kautsar adalah sungai di surga.
2. Al Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang diberikan pada Nabi kita
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pendapat Ibnu
‘Abbas.
3. Al Kautsar adalah ilmu dan Al Qur’an. Demikian pendapat Al Hasan Al
Bashri.
4. Al Kautsar adalah nubuwwah (kenabian), sebagaimana pendapat ‘Ikrimah.
5. Al Kautsar adalah telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
banyak manusia mendatanginya. Demikian kata ‘Atho’.
6. Al Kautsar adalah begitu banyak pengikut dan umat. Demikian kata Abu
Bakr bin ‘Iyasy. (Lihat Zaadul Masiir, 9: 247-249)
Nikmat
Dibalas dengan Syukur
Syaikh Musthofa Al ‘Adawy berkata,
“Orang yang masih berada dalam fitrah yang selamat, tentu ketika diberi nikmat
akan dibalas dengan syukur. Maka kebaikan yang banyak yang telah diberi ini
dibalas dengan:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan
berqurbanlah.” (Tafsir Juz ‘Amma, Musthofa Al ‘Adawi, hal. 293)
Dirikan
Shalat dan Qurban Hanya untuk Allah
Yang dimaksud: Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah, adalah
jadikanlah shalatmu hanya karena Allah dan jangan ada niatan untuk yang
selain-Nya. Begitu pula jadikanlah hasil sembelihan unta ikhlas karena Allah.
Jangan seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik di mana mereka melakukan
sujud kepada selain Allah dan melakukan penyembelihan atas nama selain Allah. Bahkan
seharusnya shalatlah karena Allah dan lakukanlah sembelihan atas nama Allah.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ
وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ
أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)
“Katakanlah: sesungguhnya
shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan
demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang
pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al An’am:
162-163)
Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud
shalat di sini adalah shalat Idul ‘Adha. Adapun maksud ‘naher’ adalah penyembelihan pada hari Idul Adha
sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas ulama).
(Lihat Zaadul Masiir, 9: 249)
Yang
Membenci Nabi, Merekalah yang Terputus
Ayat terakhir,
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
“Sesungguhnya orang-orang yang
membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3). Yang
dimaksudkan ayat ini adalah orang-orang yang membenci dan memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya yang
terputus dan tidak ada lagi penyebutan (pujian) untuknya setelah matinya.
Orang-orang Quraisy menyatakan demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
lagi memiliki keturunan laki-laki (semuanya meninggal dunia). Maka Allah pun
membalasnya dengan meninggikan pujian bagi beliau. Beliau dipuji oleh orang
terdahulu dan belakangan di tempat yang tinggai hingga hari pembalasan.
Sedangkan yang memusuhi beliau, itulah yang terputus di belakang. (Keterangan
dari Musthofa Al ‘Adawi, Tafsir Juz ‘Amma, hal. 294).
Ibnul Jauzi mengatakan bahwa yang
dimaksud ‘abtar’ adalah terputus dari kebaikan (Zaadul
Masiir, 9: 251).
‘Ikrimah berkata bahwa yang
dimaksud ‘abtar’ adalah bersendirian. As Sudi mengatakan
bahwa dahulu jika ada seseorang yang anak laki-lakinya meninggal dunia, maka
disebut abtar (batar). Ketika anak laki-laki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia,
orang-orang Quraisy mengatakan, “Bataro Muhammad (Muhammad
terputus).” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 483)
Ibnu Katsir menjelaskan, “Yang
dimaksud abtar adalah jika seseorang meninggal dunia, maka
ia tidak akan lagi disebut-sebut (disanjung-sanjung). Inilah kejahilan
orang-orang musyrik. Mereka sangka bahwa jika anak laki-laki seseorang mati,
maka ia pun tidak akan disanjung-sanjung. Padahal tidak demikian. Bahkan
beliaulah yang tetap disanjung-sanjung dari para syahid (tuan) yang lain.
Syari’at beliau tetap berlaku selamanya, hingga hari kiamat saat manusia
dikumpulkan dan kembali.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 483)
Surat ini kata Syaikh Muhammad bin
Sholih Al ‘Utsaimin berisi penjelasan mengenai nikmat yang diberikan oleh Allah
kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu
beliau dikaruniakan kebaikan yang banyak. Kemudian di dalamnya berisi perintah
untuk mengerjakan shalat dan berqurban juga ibadah lainnya atas dasar ikhlas karena
Allah. Kemudian terakhir dijelaskan bahwa siapa yang
membenci Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenci satu saja dari ajaran
beliau, merekalah yang nantinya terputus yaitu tidak mendapatkan kebaikan dan
barokah (Tafsir Juz ‘Amma, 281).
Semoga shalawat dan salam senantiasa
tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad hingga Yaumat Tanaad (hari kiamat saat
manusia diseru di padang Mahsyar).
Wallahu waliyyut taufiq.
Sumber https://rumaysho.com/2712-al-kautsar-dan-kenikmatan-yang-banyak.html

Komentar
Posting Komentar