Sejara, Prosesi Akikah dan Cara Melaksakannya Menurut Para Ulama

 


Akekahan berasal dari bahasa Arab “’aqiqah” yang memiliki beberapa makna. Di antaranya bermakna rambut kepala bayi yang telah tumbuh ketika lahir, atau hewan sembelihan yang ditujukan bagi peringatan dicukurnya rambut seorang bayi.

Bila bayi itu laki-laki, maka hewan sembelihannya berupa dua ekor kambing. Bila perempuan, maka cukup dengan seekor kambing saja. Selain itu, akikah juga dapat bermakna sebuah upacara peringatan atas dicukurnya rambut seorang bayi

Dalam sejarahnya, tradisi akikah merupakan warisan dari tradisi Arab pra Islam yang dilaksanakan dengan cara menyembelih hewan kambing pada saat bayi lahir yang kemudian darahnya dioleskan kepada kepala si bayi.

 

Setelah Islam datang, kemudian praktik tersebut diubah dengan mengolesi kepala si bayi dengan minyak. Akikah dalam Islam juga tidak membedakan bayi laki-laki dan perempuan. Tidak sebagaimana tradisi Arab pra Islam yang hanya mengkhususkan akikah bagi bayi laki-laki

 

Secara umum, hewan (kambing) yang akan disembelih dalam acara akikah tidak jauh berbeda dari berkurban di hari raya idul adha. Baik dari jenis, usia hewan, tidak cacat, niat dalam penyembelihan hewan serta menyedekahkan daging (yang telah masak) ke sejumlah fakir miskin.

 

Hukum Pelaksanaan Akikah

Dalam hukum Islam (fikih), akikah dilaksanakan berdasarkan hadits dari Samrah bin Jundab yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap anak yang dilahirkan akan tumbuh menjadi anak yang saleh dengan ditebus oleh binatang yang disembelih pada hari ketujuh kelahirannya. Kemudian dicukur dan diberi nama yang baik.

(HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibn Majah dan AnNasai)

 

Dalam pelaksanaan akikah, para ulama berbeda pendapat mengenai kapan akikah dilangsungkan. Sejumlah ulama menyatakan bahwa akikah dilaksanakan sebelum hari ketujuh setelah kelahiran si bayi. Imam Syafi’i sendiri berpendapat bahwa akikah boleh dilaksanakan baik sebelum maupun sesudah hari ketujuh kelahiran si bayi sampai dia berakal baligh. Pada acara akikah ini, dianjurkan pula untuk memberi nama si bayi.

 

Secara sistematis, prosesi akikah dilihat dari kadar kemampuan orang tua si bayi dalam pelaksanaannya terbagi menjadi lima tahapan secara berurutan:

 

1.Jika di hari pertama kelahiran si bayi sampai hari ketujuh orang tua si bayi mampu secara ekonomi untuk melaksanakan akikah, maka sebaiknya segera dilaksananakan. Namun, jika sampai hari ketujuh belum mampu, maka boleh dilaksanakan sampai masa nifas ibu bayi selesai, yakni dalam masa 60 hari.

 

2.Jika setelah ibu bayi selesai nifas dan belum mampu melaksanakan akikah, maka akikah boleh dilaksanakan hingga berakhirnya masa menyusui (radha’ah), yakni usia 2 tahun.

 

3.Jika sampai pada masa menyusui masih juga belum mampu melaksanakan akikah, maka dianjurkan agar akikah dilaksanakan hingga anak berusia 7 tahun.

 

4.Jika sampai berusia 7 tahun dan belum mampu melaksanakan akikah maka dipersilakan berakikah sampai anak berusia sebelum baligh.

 

5.Jika sampai berusia baligh dan orang tua tidak mampu melaksanakan akikah, maka si anak dipersilakan untuk melakukan akikah untuk dirinya sendiri.

 

Akikah di Indonesia

Pada dasarnya, akikah adalah bagian dari ajaran Islam. Meski demikian, tradisi akikahan yang berlangsung di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Hal ini sebagaimana yang terjadi, misalnya di suku Bugis Makassar. 


Syukuran akikahan di daerah tersebut sangat kental dengan makna penyelamatan lingkungan dan pesan moral agar melihat dalam perspektif jangka panjang sampai lintas generasi, bukan berpikir secara instan sehingga kelahiran sebuah generasi tidak merusak atau membebani alam sekitar sekaligus menjaga tradisi gotong royong dan memelihara kekerabatan.

 

P e m b a c a a n barasanji atau syair barzanji juga umumdiselenggarakan pada malam akikahan. Pada acara tersebut rambut bayi dipotong dan ada pula pembagian minyak wangi kepada jamaah yang membacakan syair-syair pujian kepada Rasulullah. Pembacaan barzanji ini bentuk upacaranya mirip marhabanan (perayaan mauludan m e m p e r i n g a t kelahiran Nabi).

 

Ketika para peserta dan undangan melanunkan marhaban atau saat mahallul qiyam (berdiri) sang ayah dari si bayi ini membawa si bayi ke tengah-tengah peserta, diikuti seorang lain yang membantu membawakan baki berisi bunga, wewangian, dan gunting. Tamu yang paling dihormati mengawali secara simbolis dengan mencukur beberapa helai rambut bayi, kemudian ayah membawa bayi ke tamu lain secara bergilir satu per satu, dan masing-masing tamu bergiliran mencukur secara simbolis saja.

 

Sementara pembawa wewangian bertugas mengusapkan wewangian ke tangan orang yang baru mendapat giliran. Bila semua sudah mendapatkan giliran, bayi dikembalikan ke kamar tidur.

 

Akikah di Era Modern

Di tengah arus modernisasi, prosesi akikah juga mengalami sedikit banyak perubahan. Terutama dalam proses penyembelihan hewan yang hendak dijadikan akikah.

 

Sejumlah penyedia jasa, sudah melihat adanya prospekbisnis dalam prosesi akikah. Para penyedia jasa menyediakan hewan sembelihan akikah sekaligus siap untuk membagikan dagingnya.

 

Munculnya penyedia jasa seperti ini di satu sisi mempermudah orang yang hendak mengakikahkan putra-putrinya. Di sisi lain, hal ini pada gilirannya menghilangkan sejumlah prosesi dalam tradisi akikah yang telah mengakar di masyarakat seperti tradisi barzanjian dan lain sebagainya.

Komentar